Pagi itu, setelah subuh, aku menyalakan kembali ponsel yang semalaman mati. Layar baru saja menyala ketika notifikasi pesan WhatsApp bermunculan, saling berdesakan layaknya derai hujan pagi. Pesan-pesan itu dari berbagai grup, teman kerja, dan… ibu. Aku membuka pesan darinya lebih dulu, tanpa tahu bahwa kalimat di sana akan mengubah seluruh rencana hariku.
"Nak, gimana kabarmu? Sehat? Bapak sakit."
Setelah membaca pesan itu, jantungku berdetak lebih cepat. Seolah ada sesuatu yang menusuk dalam dan tiba-tiba. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengetik balasan, berharap semua baik-baik saja di rumah.
"Alhamdulillah aku sehat, Bu. Ibu gimana? Sehat kan? Bapak sakit apa? Sudah periksa, belum?”
Pesanku terkirim… tapi hanya satu centang yang muncul. Aku menatap layar, berharap ibu segera membalas, tapi tetap saja sunyi. Seketika benakku dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang tak kuinginkan.
Tak lama, ponselku bergetar, kali ini panggilan telepon dari kakak pertama.
“Adek, pulang sekarang juga! Bapak sakit. Langsung ke klinik, jangan ke rumah,” suaranya terdengar kaku, jauh lebih tegang dari biasanya.
Hari itu, Sabtu, 26 Juni, aku segera bersiap untuk pulang. Kami tiga bersaudara, kakak pertama sedang dinas di luar negeri, kakak kedua tinggal di Sunter, sementara aku memilih kost dekat tempat kerja.
Aku menekan nomor Mang Wawan, tukang ojek langganan yang biasa kami andalkan untuk perjalanan darurat di desa. Layanan ojek online belum merambah sejauh ini.
“Mang, nanti antar ke klinik Cigadung, ya,” kataku sambil naik ke motor.
“Mau ke klinik? Ada apa, Neng?”
“Mau jenguk Bapak. Katanya, beliau dibawa ke sana,” jawabku singkat, mencoba menutupi nada cemas dalam suaraku.
Mang Wawan mengangguk, namun wajahnya tampak khawatir. “Ah, masa sakit? Kemarin baru aja WA-an sama mamang.”
“Iya, mang. Saya juga baru dapat kabar.”
Perjalanan menuju klinik terasa lebih panjang dari biasanya. Hatiku dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak punya jawaban. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa bapak baik-baik saja?
Sesampainya di klinik, kulihat kakak kedua sudah tiba lebih dulu. Dia duduk di sudut ruang tunggu kasir, dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kecemasan. Di pojok lainnya, ibu tampak duduk lemas, wajahnya pucat dan tampak kelelahan. Aku menghampiri mereka, mencoba tersenyum meski di balik masker, kemudian menyapa dengan suara bergetar.
"Gimana, Bu? Gimana, A?" tanyaku dengan penuh harap, namun juga takut akan jawabannya.
Kakak menatapku sejenak, lalu berkata dengan suara pelan, “Positif.”
Aku menatapnya bingung. “Positif? Maksudnya apa?”
“Positif Covid. Bapak tadi sudah di-swab,” jelas kakakku singkat.
Rasanya tubuhku mendadak lemas. Seperti ada beban berat yang menggantung, membuat kakiku nyaris tak mampu menopang. Bayangan-bayangan buruk mulai melintas dalam pikiranku, bertumpuk-tumpuk, menumpulkan logika. Aku memejamkan mata, berusaha mengendalikan rasa takut yang datang seketika. Ibu tampak semakin lunglai di kursinya, dan di detik itu juga, aku tahu aku harus kuat untuknya. Aku meraih tangannya, menggenggamnya erat, berharap mampu membagi sedikit ketenangan di tengah ketidakpastian ini.
0 komentar:
Posting Komentar