Senin, 09 Maret 2026

Lelaki itu adalah AYAH

Aku akan memulai kisah tentang ayahku—seorang lelaki yang sangat aku sayangi dan hormati. Bagiku, sosoknya tidak jauh berbeda dari seorang pahlawan. Hidupnya penuh perjuangan, tetapi ia tidak pernah menjadi orang yang biasa-biasa saja. Di balik kesederhanaannya, ada keteguhan, keberanian, dan kasih sayang yang membentuk banyak bagian dalam hidupku.

Masa kecilku tumbuh dalam pelukan kasih sayang kedua orang tuaku, terutama ayah. Ia selalu hadir di setiap fase pertumbuhanku, seakan tidak ingin melewatkan satu pun langkah kecil yang kuambil. Aku selalu berada di dekatnya—mengikutinya ke mana pun ia pergi. Karena itu, orang-orang di sekitar kami sering menjulukiku “anak ayah.” Julukan yang sederhana, tetapi menggambarkan betapa eratnya kedekatan kami.

Kami tinggal di desa, namun cara berpikir ayah jauh dari kesan kolot atau monoton. Ia selalu mengikuti perkembangan zaman, terutama dalam hal pendidikan. Baginya, pendidikan adalah jalan yang harus ditempuh anak-anaknya, apa pun keadaannya. Pola pikirnya sangat berbeda dengan kebanyakan orang di desa kami. Banyak anak-anak hanya bersekolah sampai SMP, atau paling tinggi SMA. Setelah itu, mereka menikah muda, sebagian bahkan menjadi beban keluarga, sementara para istrinya pergi merantau ke luar negeri sebagai TKW.

Ayah tidak pernah ingin masa depan anak-anaknya berjalan seperti itu.

Dengan keyakinan yang kuat, ia selalu mengatakan bahwa anak-anaknya harus menjadi sarjana—bahkan jika bisa, lebih tinggi lagi. Ia merasa bangga jika anak-anaknya memiliki gelar pendidikan. Bagi ayah, gelar bukan sekadar selembar kertas, melainkan simbol perjuangan dan pintu menuju kehidupan yang lebih baik.

Karena keteguhan itulah, sejak kecil aku sudah terbiasa dengan pola hidup yang sangat dekat dengan dunia pendidikan. Pagi hari aku bersekolah di SD, dimulai sejak matahari baru naik hingga menjelang waktu dzuhur. Namun hari-hariku tidak berhenti di sana. Setelah dzuhur, aku kembali berangkat ke sekolah madrasah, belajar hingga waktu ashar tiba.

Seolah belum cukup, setelah maghrib pun masih ada kewajiban lain: belajar mengaji. Ketika kakakku berada di rumah, ayah sering memintanya untuk mengajariku membaca Al-Qur’an. Pernah juga aku mengaji di surau bersama anak-anak desa lainnya. Kami duduk bersila di lantai kayu, dengan suara bacaan Al-Qur’an yang saling bersahutan.

Namun kebiasaan itu hanya bertahan beberapa bulan.

Pada masa itu, desa kami sedang dihebohkan oleh isu tentang “ninja”—sebuah kabar yang membuat banyak orang tua diliputi ketakutan. Ayah tidak ingin mengambil risiko. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi ketika aku pergi mengaji pada malam hari.

Sejak saat itu, ayah memilih mengajariku sendiri di rumah.

Dengan kesabaran yang luar biasa, ia membimbingku membaca setiap huruf, setiap ayat, hingga akhirnya aku mampu menyelesaikan bacaan Al-Qur’an sampai khatam. Bagi ayah, pendidikan bukan hanya tentang sekolah, tetapi juga tentang membentuk hati dan keyakinan anak-anaknya.

Dan dari situlah, perlahan aku mulai memahami bahwa ayahku bukan hanya seorang kepala keluarga. Ia adalah guru pertamaku dalam hidup.

kurang terasa novel, aku ingin seperti andrea hirata, melow melankolis dan pembaca bisa terbawa suasana

Aku akan memulai kisah ini dengan satu nama yang selalu membuat dadaku hangat setiap kali mengingatnya: ayahku. Seorang lelaki sederhana yang bagiku tidak pernah benar-benar sederhana. Dalam ingatanku, ia berdiri seperti seorang pahlawan—bukan pahlawan yang diabadikan dalam buku sejarah, tetapi pahlawan yang diam-diam berperang melawan kerasnya hidup demi anak-anaknya.

Aku tumbuh dalam rumah kecil yang dipenuhi kasih sayang. Di rumah itu, ayah adalah matahari yang selalu hadir. Ia tidak pernah jauh dari masa kecilku. Setiap langkah kecil yang kuambil seolah berada dalam pengawasannya yang penuh cinta. Aku selalu berada di dekatnya—menempel seperti bayangan yang enggan pergi. Mungkin karena itu orang-orang di desa sering tersenyum melihatku dan berkata, “Itu anak ayah.”

Julukan itu tidak pernah terasa berlebihan. Aku memang anak ayah.

Kami hidup di desa yang sederhana, tempat kebanyakan orang menjalani hidup dengan cara yang hampir sama dari generasi ke generasi. Sekolah sampai SMP, kalau beruntung sampai SMA. Setelah itu menikah. Sebagian bekerja seadanya, sebagian lagi hidup bergantung pada keluarga. Tidak sedikit perempuan yang akhirnya merantau jauh ke negeri orang menjadi TKW demi menyambung hidup keluarga mereka.

Namun ayahku berbeda.

Ia memang orang desa, tetapi pikirannya seperti berjalan lebih jauh dari batas desa kami. Ia tidak pernah terperangkap dalam cara berpikir yang sempit. Ada satu hal yang selalu ia yakini dengan sepenuh hati: pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib.

Ayah sering berkata dengan nada yang penuh keyakinan, seolah sedang membuat janji kepada masa depan, bahwa anak-anaknya harus menjadi sarjana. Kalau bisa, lebih tinggi lagi. Di matanya, gelar pendidikan bukan sekadar huruf yang ditulis di belakang nama, tetapi tanda bahwa seseorang telah menaklukkan perjuangan panjang.

Aku masih kecil saat itu, terlalu kecil untuk memahami sepenuhnya arti dari keyakinan ayah. Tetapi aku merasakan kesungguhan itu dalam setiap hari yang kujalani.

Pagi hari, ketika matahari baru mulai menyentuh atap-atap rumah di desa kami, aku sudah bersiap berangkat ke sekolah dasar. Di sana aku belajar hingga menjelang waktu dzuhur. Ketika teman-temanku pulang dan bermain, hariku belum selesai. Setelah dzuhur, aku kembali berangkat—kali ini ke madrasah. Aku belajar lagi sampai waktu ashar tiba.

Hari-hariku terasa seperti perjalanan panjang dari satu buku ke buku lainnya.

Namun bahkan setelah matahari tenggelam, pelajaran belum benar-benar usai.

Setelah maghrib, rumah kami sering berubah menjadi ruang belajar kecil. Ayah duduk di dekatku, memperhatikan setiap huruf yang kuucapkan saat membaca Al-Qur’an. Jika kakakku sedang di rumah, ayah akan memintanya membantu mengajariku. Aku juga sempat mengaji di surau bersama anak-anak desa lainnya. Kami duduk bersila di lantai kayu yang mulai dingin oleh udara malam, membaca ayat demi ayat dengan suara yang kadang ragu, kadang penuh semangat.

Namun masa itu tidak berlangsung lama.

Suatu waktu desa kami diliputi kabar aneh yang membuat orang-orang gelisah. Isu tentang “ninja” beredar ke mana-mana. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi cerita-cerita menakutkan menyebar dari mulut ke mulut, menyalakan rasa takut di hati para orang tua.

Ayah termasuk yang gelisah.

Ia tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun.

Sejak saat itu, aku tidak lagi pergi mengaji ke surau. Ayah memilih mengajariku sendiri di rumah. Malam-malam kami diisi dengan suara pelan ayat-ayat Al-Qur’an yang kuucapkan dengan terbata-bata. Ayah akan duduk sabar di sampingku, membetulkan bacaanku dengan suara lembut, seolah waktu tidak pernah menjadi sesuatu yang terburu-buru baginya.

Sedikit demi sedikit, huruf-huruf itu menjadi akrab bagiku. Ayat-ayat itu mulai mengalir lebih lancar dari lisanku.

Hingga suatu hari, tanpa terasa, aku menyelesaikan bacaan Al-Qur’an sampai khatam.

Saat itu aku belum benar-benar memahami apa arti semua usaha ayah. Aku hanya tahu satu hal: di balik semua kelelahan hari-hariku sebagai anak kecil yang harus sekolah dua kali, belajar lagi setelah maghrib, dan mengaji di malam hari, ada seorang lelaki yang diam-diam sedang membangun masa depan anaknya dengan tangannya sendiri.

Dan lelaki itu adalah ayahku.

0 komentar:

Posting Komentar